Mataahari senja telah hampir tenggelam dengan sangat perlahan berangsur turun,turun meninggalkan bumi luas yang tak nampak oleh mata dimana letak ujung pangkalnya. Cahay merah telah mulai terbentang luas di ufuk barat dan bayangnya meninggalkan keindahan yang tiada tara,di hadapan ku juga tersedia sebotol susu yang siap aku nikmati.
Namun keindahan dan kenikmatan itu hanya menjadi cerita dalam sore itu. Seberapapun indahnya cahaya merah yang dihasilkan matahari,seberapapun nikmatnya minuman yang ada di hadapan ku saat itu,masih tak jua aku bisa menikmatinya. Entah karena mungkin akunya yang kurang bersukur atas kenikmatan yang tuhan berikan di sore itu,yang pasti mata terbukak lebar memandang langit yang luas namun hati dan pikiran telah jauh melayang tak tentu arah.Memikirkan masa yang akan datang dan nasib badan di kemudian hari.
Berjam-jam sudah kiranya aku termenung di sore itu hingga tampa ku sadari cahaya mulai gelap dan minuman susu tadipu sudah habis,ketika hendak membuang botol susu yang sudah habis isinya tadi tampa sengaja terlintas di pikiranku tentang nasib botol tersebut,begitu malang nasibnya botol itu.Setelah dibuat secantik mungkin dengan tangan-tangan kreatif manusia hanya akan berakhir di buang di tempat pembuangan karena yang berharga dari nya hanya lah isi,ketika isinya sudah habis maka habis pulalah nasibnya,tampa bisa berbuat banyak,tampa bisa memberontak botol itu akan tetap di buang.
Begitu jua nasib diri ini ,seberapapun tampannya,seberapapun gagahnya,seberapapun kuatnya raga ini takakn berarti tampa ilmu pengetahuan dan iman tebal yang raga ini miliki.Manusia tampa ilmu pengetahuan dan iman tebal yang kuat tak akan berarti apa-apa,karena pada manusia itulah yang menjadi isi,sedangkan tubuh ini hanyalah sama seperti botol susu tadi.Jikaalau isi dari tubuh ini tidaklah ada maka nasib ini dan botol susu tadi akan berakhir sama.Akan berakhir di pembuangan sebagai sampah,sampah yang tak akan di pandang orang,sampah yang tak akan pernah dianggap ada,itulah Sampah Masyarakat.
Namun keindahan dan kenikmatan itu hanya menjadi cerita dalam sore itu. Seberapapun indahnya cahaya merah yang dihasilkan matahari,seberapapun nikmatnya minuman yang ada di hadapan ku saat itu,masih tak jua aku bisa menikmatinya. Entah karena mungkin akunya yang kurang bersukur atas kenikmatan yang tuhan berikan di sore itu,yang pasti mata terbukak lebar memandang langit yang luas namun hati dan pikiran telah jauh melayang tak tentu arah.Memikirkan masa yang akan datang dan nasib badan di kemudian hari.
Berjam-jam sudah kiranya aku termenung di sore itu hingga tampa ku sadari cahaya mulai gelap dan minuman susu tadipu sudah habis,ketika hendak membuang botol susu yang sudah habis isinya tadi tampa sengaja terlintas di pikiranku tentang nasib botol tersebut,begitu malang nasibnya botol itu.Setelah dibuat secantik mungkin dengan tangan-tangan kreatif manusia hanya akan berakhir di buang di tempat pembuangan karena yang berharga dari nya hanya lah isi,ketika isinya sudah habis maka habis pulalah nasibnya,tampa bisa berbuat banyak,tampa bisa memberontak botol itu akan tetap di buang.
Begitu jua nasib diri ini ,seberapapun tampannya,seberapapun gagahnya,seberapapun kuatnya raga ini takakn berarti tampa ilmu pengetahuan dan iman tebal yang raga ini miliki.Manusia tampa ilmu pengetahuan dan iman tebal yang kuat tak akan berarti apa-apa,karena pada manusia itulah yang menjadi isi,sedangkan tubuh ini hanyalah sama seperti botol susu tadi.Jikaalau isi dari tubuh ini tidaklah ada maka nasib ini dan botol susu tadi akan berakhir sama.Akan berakhir di pembuangan sebagai sampah,sampah yang tak akan di pandang orang,sampah yang tak akan pernah dianggap ada,itulah Sampah Masyarakat.





